Ketika sesuatu terasa sulit untuk dimengerti, Bacalah!
Ketika sesuatu itu sulit untuk diucapkan, Tulislah!

.

Bersyukur tanpa pamrih

Senin, 16 Januari 2017 - 21.36.00

Ini menjadi tulisan pertama di tahun #2017.
Setelah lama tidak menulis dan banyak yang mengingatkan untuk kembali menulis.
(Mengingatkan hutang tulisan OWOP :D )
Maka akhirnya tulisan ini ada.

Jika syurga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?

Penggalan lirik itu tiba-tiba muncul disaat ada yang mengajukan tema "Lagu" pada kegiatan #10haribercerita.(Kegiatan #10haribercerita merupakan tantangan bagiku untuk menimbulkan kembali semangat menulis). Sebenarnya aku tidak begitu suka mendengarkan lagu. Lebih suka mendengarkan instrumen musik tanpa lirik. Setidaknya aku tidak perlu berfikir tentang lirik yang disampaikan oleh pencipta lagu. Sekedar musik pengantar tidur sudah cukup bagiku.

Namun ada yang berbeda ketika lirik diatas kita baca ulang dengan perlahan.
Menuntut diri untuk berfikir dan menjawab pertanyaan yang semestinya tidak perlu jawaban.

Pernahkah kita bertanya pada diri, Bagaimana jika syurga tidak pernah dijanjikan sebagai konsekuensi ibadah-ibadah kita di dunia?
Bagaimana pula jika seluruh keindahan syurga tidak pernah diceritakan kepada kita?
Apakah kita masih akan beribadah kepada-Nya?

Pernahkah kita mengingatkan kepada diri, Bagaimana jika neraka tidak pernah disebutkan sebagai balasan dari dosa-dosa yang kita lakukan di dunia?
Apakah kita masih tetap lalai dan enggan untuk beribadah kepada-Nya?

Memang tidak ada salahnya jika kita mengharapkan sesuatu.
Tooh.. Bukankah pada dasarnya manusia hanya bisa berharap.

Namun sebuah konsep psikologi tentang alasan-alasan individu berprilaku pernah mengatakan bahwa tingkatan paling rendah
√°dalah menjadikan hadiah dan hukuman sebagai alasan individu berperilaku.

Anak kecil dengan usia satuan masih mengharapkan reward untuk dapat berperilaku baik.
Atau ketakutan hewan pada 'Pecut' pelatih untuk berprilaku sesuai instruksi.

Lalu bagaimana dengan kita yang sudah baligh, berakal, dan memiliki kemampuan untuk memilih?
kita harus mengaku bahwa saat ini kita masih melakukan ibadah atas dasar pamrih.
Kita mengharapkan balasan, dari yang sederhana, pujian sampai yang paling tinggi serupa syurga.

Tidakkah kita begitu egois sekali, lupa bersyukur dan kurang beribadah tapi masih juga mengharapkan pamrih dari ibadah-ibadah yang kita lakukan?
Hanya sedikit yang kita sadari karena jumlah yang tidak kita sadari sungguh sangat jauh lebih banyak.
Padahal, setiap hari kita selalu dikelilingi oleh nikmat, penjagaan, dan karunia yang Tuhan berikan tanpa putus.

Mulai sekarang, bagaimana kalau kita berhenti mengharapkan pamrih dan menggantinya dengan syukur sebagai alasan ibadah-ibadah kita?

Mungkin lagu kita tidak sama.
Sama halnya dengan pandangan berfikir kita yang berbeda.
Tetapi selalu ada makna tersendiri dari lagu yang kita dengar.
Kenangan atau kebermanfaatan mungkin?

Bersyukur tanpa pamrih www.SalmanSyuhada.com

*SalmanSyuhada
Pekanbaru 16/01/2017 21:36

#SelfReminder #SelfNotes #10HariBercerita


----------------------------------

Share :

----------------------------------

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Salmansyuhada