Ketika sesuatu terasa sulit untuk dimengerti, Bacalah!
Ketika sesuatu itu sulit untuk diucapkan, Tulislah!

.

Musyawarah & Diskusi : Hati dan Nalar

Kamis, 10 Maret 2016 - 19.59.00

Musyawarah dan diskusi telah lama menjadi khazanah perbendaharaan kata dalam masyarakat Indonesia. Namun demikian, musyawarah dianggap lebih khusus dan berlangsung dalam lingkup mikro. Misalnya saja musyawarah keluarga terkait sebuah hajatan pernikahan atau sejenisnya. Sedangkan diskusi dipandang lebih keren, ilmiah dan public. Kedua terma tersebut dianggap sangat berbeda. Bahkan, ada pandangan yang lebih ekstrim bahwa musyawarah tidak masuk ranah publik. Benarkah demikian?



Sebenarnya, sejauh yang pernah saya alami dalam kurun waktu lima tahun terakhir, musyawarah justeru terjadi dalam lingkup akademik yang dianggap memenuhi kriteria scientific itu. Karena, dalam beberapa forum musyawarah tidak sebagaimana mitos selama ini yang menempatkan muswarah dalam ranah keluarga. Ada banyak musyawarah akademik telah saya ikuti berbicara tentang science and knowledge, filsafat, kedokteran dan berbagai disiplin ilmu lain.



Semua musyawarah ilmiah yang pernah saya ikuti berlangsung begitu damai, tenang, menyenangkan dan tidak pernah terdengar nada tinggi sebagai peyanda emosi karena pantang kalah. Musyawarah cenderung menggunakan rasa (hati) sehingga membuat kita menjadi pandai merasa. Hal tersebut berbeda dengan diksusi yang lebih mengandalkan kekuatan nalar argumentatif sehingga lebih berorientasi pada benar-salah antara aku dan dia atau kita dan mereka.


Tidak jarang saya menyaksikan diskusi sebagai ajang adu argumentasi yang tidak berlangsung alot kemudian menanjak naik pada posisi perasaan serbatahu segala-galanya, orang lain tidak ada apa-apanya. Bahkan, urat lehernya nampak seolah ingin memangsa orang lain yang berbeda pandangan dengannya apalagi sampai diikuti dengan menunjuk-nunjuk ke arah muka lawan bicara sambil berkata "kamu jangan kurang ajar". Padahal kalau dia pandai merasa nyatalah dia rasa bahwa dia sedang mempraktekkan sendiri tuduhannya pada orang lain (kurang ajar).

Amat jarang diskusi yang endingnya tidak berakhir dengan emosi dan perasaan tidak enak hati karena pandangan dan argumennya dianggap remeh. Bahkan, saran dan masukan yang baik pun dipandang meremehkan dan menjatuhkan walaupun sebenarnya tidak demikian.

Kenyataan ini sering membuat saya merenung, kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan karakter pantang kekalahan, yang membuat manusia merasa dirinya paling pandai walaupun sebenarnya dia tidak mengerti dan tidak paham.

Tapi, kenyataannya dia tidak mau dilintasi orang lain atau pantang kelintasan. Terkadang memang menyedihkan, ketika niat baik untuk memberi masukan demi kesempurnaan karena sesuatu kekuarangan, namun ditanggapi sebagai sesuatu yang menjatuhkan. Akibatnya, manusia tetap terbodohkan oleh perasaan pintarnya sendiri. Manusia benar-benar bersandiwara dengan nalar ideanya. 

Manusia....manusia.. ya namanya juga manusia. Sudah jelas ternyata memang manusia itu manusia yang tetap selamanya menjadi manusia. 
Andai musyawarah itu tidak disalahpahami dalam konteks yang sangat terbatas, maka musyawarah itu menjadi jauh lebih menarik ketimbang berdiskusi. 
Musyawarah ternyata tidak saja mengajari kita memiliki kelapangan jiwa.
Musyawarah ternyata mendidik kita menjadi orang yang pandai mendengar apa kata orang, tanpa kehilangan untuk didengar kata-kata kita;
Musyawarah juga mendidik kita bisa pandai merasa, sama sekali bukan merasa pandai; 
Musyawarah membentuk kita menjadi tipe orang yang cool;
Musyawarah ternyata mengajari kita belajar menghargai dan dihargai; 
Dan musyawarah ternyata......dan ternyata...jauh lebih indah tanpa kehilangan arah...
Musyawarah demikian hanya berlangsung dalam majelis HIKMAH.

Sumber : Prof. Muhammad Isa

----------------------------------

Share :

----------------------------------

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Salmansyuhada