Ketika sesuatu terasa sulit untuk dimengerti, Bacalah!
Ketika sesuatu itu sulit untuk diucapkan, Tulislah!

.

Memburu Keselamatan

Minggu, 13 Maret 2016 - 17.50.00

Semua orang pasti ingin selamat. Bahkan bagi orang beragama, yakni mereka yang mempercayai akan adanya kehidupan lebih lanjut di akherat, keselamatan yang dimaksudkan itu tidak saja ketika masih berada di dunia, tetapi juga di akherat kelak. Keselamatan sedemikian mahal harganya dan sangat sulit dicari, sekalipun demikian kadangkala juga dilupakan oleh sementara orang.


Keselamatan rupanya tidak selalu terkait dengan jumlah kekayaan, jabatan, latar belakang pendidikan, strata sosial, dan lain-lain. Keselamatan bisa diraih oleh siapa saja, baik mereka yang miskin, bodoh, rakyat jelata, dan sebaliknya pejabat tinggi, orang kaya, dan seterusnya. Semua orang berpeluang mendapatkan keselamatan dan sebaliknya, menemui suasana sial atau tidak selamat.

Sementara orang mengira bahwa keselamatan itu akan didapatkan ketika seseorang telah memiliki harta banyak atau menjadi kaya. Akan tetapi pada kenyataananya, betapa banyak orang kaya tetapi tidak selamat. Hanya sekedar mengejar dan mempertahankan kekayaannya, ternyata justru celaka. Banyak orang menjadi stres dan bahkan mati oleh karena kekayaannya. Selain itu, tidak sedikit pula, kekayaannya malah menjadi sebab, mereka masuk penjara.

Demikian pula orang mengira bahwa dengan menjadi pejabat pemerintah, memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat, dihormati, dan dielu-elukan, maka yang bersangkutan menjadi selamat. Akan tetapi lagi-lagi, justru dengan jabatan dan posisinya itu menjadi tidak selamat. Pada akhir-akhir ini, banyak pejabat pemerintah, orang yang memiliki posisi penting, dan terhormat, ternyata apa yang disandangnya itu justru mengantarkannya tidak selamat.

Sebaliknya, orang miskin, tidak berpendidikan, hanya sebagai rakyat jelata, orang yang sehari-hari hanya mampu mencukupi kehidupannya dalam keadaan terbatas, tetapi ternyata dirinya selamat. Hidupnya memang pas-pasan dan tidak memiliki posisi apa-apa, tetapi tidak pernah terkena atau merasakan problem pelik hingga menjadikan diri dan keluarganya terganggu. Mereka berhasil hidup tenang, dan juga selamat. Memang, keberadaannya tidak banyak dikenal orang, tetapi juga tidak harus menanggung resiko berat. Hidupnya dijalani apa adanya, sehingga menjadi selamat itu.

Jika pada kenyataannya yang terlihat adalah demikian tersebut itu, maka sebenarnya kehidupan ideal itu seperti apa. Tentu, jika memungkinkan, maka hidup ideal adalah menjadi kaya, memiliki kedudukan yang tinggi, dikenal dan diperhitungkan oleh masyarakat, dan menyandang keunggulan lainnya, tetapi juga selamat. Akan tetapi jika harus memilih, yaitu antara meraih sukses dalam segala hal tetapi tidak selamat dan berkekurangan tetapi selamat, maka orang akan menomor-satukan selamat.

Pernah pada suatu saat, saya bertemu dengan seorang pejabat tinggi yang sedang terbelit kasus di pengadilan. Tanpa saya bertanya, yang bersangkutan mengungkapkan bahwa andaikan mengetahui bahwa pada akhir jabatannya akan menemui keadaan seperti yang dialami itu, ia tidak akan mau mendekati jabatan yang dianggap mulia itu. Ia mengaku akan memilih menjadi petani, pedagang, atau apa saja yang tidak beresiko sedemikian berat.

Sayangnya, ketika dilantik sebagai pejabat yang terhormat itu, pejabat tinggi dimaksud tidak membayangkan akan menemui kenyataan yang memalukan dan harus menanggung derita yang sedemikian mendalam. Ia mengatakan bahwa karier, harkat dan martabat, serta sejarah hidupnya telah berakhir dengan tidak selamat. Ketika itu olehnya dirasakan bahwa selamat adalah sesuatu yang tidak bisa diganti atau dibeli dengan harga berapapun. Maka selamat menjadi hal terpenting dan harapan bagi siapapun. Tentu, apalagi selamat di akherat.

Merenungkan berbagai pengalaman dalam kehidupan ini, bahwa ternyata yang menyelamatkan seseorang adalah bukan kekayaan, jabatan, kepintaran, strata sosial, dan sejenisnya, melainkan adalah kejujuran, kesabaran, keikhlasan, dan kebersihan hati. Namun sayangnya, beberapa sifat yang dimaksudkan itu tidak selalu mendapatkan perhatian bagi semua orang secara istiqomah. Padahal juga disebutkan di dalam al Qur’an bahwa kunci keselamatan adalah akhlaq atau orang yang mau menjaga hatinya. Qod aflaha man zakkaahaa, sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof. Imam Suprayogo

----------------------------------

Share :

----------------------------------

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Salmansyuhada