Ketika sesuatu terasa sulit untuk dimengerti, Bacalah!
Ketika sesuatu itu sulit untuk diucapkan, Tulislah!

.

Aku berfikir, Maka Aku Ada

Senin, 07 Maret 2016 - 22.42.00

Adagium filosofis di atas pertama sekali dilontarkan oleh seorang filosofi Yunani yang bernama Rene Descartes (jika tidak keliru). Cogito ergosum secara semantik diartikan "Aku berfikir, maka Aku ada". Begitu populernya adagium ini sampai begitu banyak orang yang selalu mengutipnya hampir dalam setiap perdebatan filsafat dan ilmu sosial lainnya. Saya termasuk salah seorang yang selalu mengutip adagium tersebut, rasanya begitu keren dan begitu ilmiah. Ya harap maklum dunia akademik memang dituntut berfikir secara nalar-empiri scientific. Walaupun sebenarnya apa yang menjadi isi pemikiran itu masih jauh dari mengerti dan paham.

Saya ingin mencoba menalarkan secar Logic dan theologic apakah mungkin aku berfikir maka aku ada. Mukaddimah yang patut diajukan dan direnungkan antara lain :
Siapa Aku?
Apakah berfikir mendahului eksistensi?
Apakah yang berfikir itu otak?
dan sebagainya.



Ketika kita mengatakan "Aku berfikir" maka jelas bahwa berfikir itu aksi nyata yang dilakukan "si aku". Berfikir adalah ekspresi dari tindakan kongkrit sang aku. Sama seperti kita mengatakan "Aku makan" dan lain sebagainya. Berfikir itu adalah proses nalar. Bernalar itu bukan sumber dari berfikir, melainkan ada HUMAN realsource yang berfikir pada otak sang aku. Ini berarti ada "aku" yang mendahului berfikir. Sebab berfikir itu aksi yang dilakukan sang aku. Tidak mungkin ada proses pikir tanpa ada "aku yang berfikir" pada otak. Tanpa aku, otak itu bukan apa-apa, melainkan hanya instrumen (alat) yang digunakan aku untuk beraksi, yaitu berfikir. Sama dengan aku melihat, aku mendengar, aku mencium, aku berkata, dan aku merasa. 

Tanpa aku tidak mungkin ada aksi melihat, mendengar, mencium, berkata,  dan merasa. Instrumen berupa Mata, telinga, hidung, dan mulut digunakan oleh aku untuk berbuat. Kenyataan ini bisa kita qiaskan pada orang mati yang memiliki keutuhan anggota tubuh tetapi tidak berfungsi ketika ditinggal sang Aku (QS. AL Zummar:42).

Andaikata instrumen itu tidak ada, maka aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memerlukan wadah untuk berbuat, jika bukan karena wadah itu maka aku yang berdimensi cahaya itu akan memenuhi langit dan bumi. Siapa dia? Itulah the soul, the spirit yang menggerakkan lima panca Indera pada manusia. Karena itu, kita tidak pernah mendengar "aku mata", aku telinga dan sebagainya, tetapi telinga aku, mata aku, hidung aku, dan sebagainya aku.

Secara theologic aku yang menggerakkan power pada otak sehingga terjadi proses nalar (thinking process) pada otak. Maka, otak merupakan media untuk berfikir. Otak tidak bisa berfikir tanpa aku, sehingga terjadilah aku berfikir. Tetapi proses berfikir ini diawali oleh eksistensi aku. Begitu juga dengan pekerjaan lain yang melibatkan lima panca indera pada kita. Maka jelaslah bahwa dengan ditiupkannya sang aku (baca:Ruh) sempurnalah kejadian manusia, aku berfikir pada otak, aku mendengar pada telinga dan sebagainya (lihat surat 32:9).

Secara logik dan theologic dapat dibuktikan bahwa lima panca Indera sebagai Instrument utama bagi sang aku untuk beraksi, ketika ditinggal sang aku, katakanlah mati, maka Instrument tadi menjadi tidak berfungsi sama sekali. 

Dengan dasar ini, maka aku tidak lagi merujuk atau bersandar pada otak, tetapi sumber pemikiran yang memancar pada otak itu merujuk pada Ruh sebagai HUMAN realso pada setiap dada manusia. Aku yang berfikir itu adalah Ruh yang menjadi sumber daya yang membuat panca indera kita berfungsi. Memang sejauh ini epistemologinya akademik dibangun di atas kekuatan nalar, sementara Ruh yang ada dalam dada, yang menghidupkan anggota tubuh manusia tidak mendapat perhatian yang dominansi. Nalar hanya bisa menunjukkan nama, tetapi tidak sampai pada mengenalkan benda yang punya nama. Sejatinya, sebagaimana keterangan AL Qur'an bahwa setiap benda memiliki nama. Nama merujuk pada benda, dan tidak mungkin ada nama yang tidak memiliki wujud (benda). Adam diajarkan nama semua benda yang ada. 

Kekuatan nalar sangat terbatas pada teks dan konteks, sedangkan kekuatan sang aku sebagai the Soure of thinking power itu melintasi dimensi ruang dan waktu. Artinya, sejauh apapun jarak yang ditempuh sang aku maka seketika itu pula dia sampai pada tempat yang dituju. Dan, ini tidak mungkin dilakukan melalui berfikir. Ada aku, maka ada yang berfikir pada otak. Apabila direnungkan secara jernih dengan kejernihan power dalam dada kita (Ruh), maka sangat logis dan memiliki Justifikasi teologis yang tidak bisa meruntuhkan adagium filsafat Rene Descartes selama ini. Eksistensi aku itulah yang berfikir pada otak. Bukan aku berfikir maka aku ada. Tetapi Ruh sebagai sang aku sejati lah yang memiliki pemikiran secara brilliant pada otak.

Apabila nalar mengajarkan nama sesuatu benda yang belum diketahui dan dipahami sekalipun, maka Ruh itu mengajarkan benda yang memiliki nama, setiap benda ada nama, ada wujud dibalik teks. Sebagaimana logika berfikir filsafat Rene Descartes di atas, maka nalar telah mempatenkan kepahaman pada kita bahwa gelas di atas meja. Artinya, gelas di bawah, meja di atas. Gelas di atas meja. Kerangka berfikir demikian karena sudah paten, maka dianggap benar walaupun secara logik tidak mungkin. Sebab meja yang berat menyeruduk gelas kaca pasti pecah, jika postulasi diyakini gelas di atas meja. Tetapi jika kita mengatakan "meja di atas gelas", maka gelas itu tetap elok dan tidak akan pecah karena diseruduk meja yang berat. Maka yang patut dipertimbangkan adalah meja di atas gelas.

Akhirnya, jika kita sepakat dengan dasar logika dan teologis semacam ini, maka mitos filsafat Rene Descartes yang mengatakan "Aku berfikir maka aku ada" tidak mungkin dan dinyatakan gugur. Karena Ia hanya sebuah kebenaran kontemplatif yang memiliki relativitas kebenaran yang bersifat nisbi. Jika kemarin dinyatakan benar, maka ada kebenaran lain yang lebih benar gugurlah mitos itu, begitulah hukum krisis paradigma metode berfikir pada nalar di dunia akademik. Sebab itu, sudah saatnya kita mempertimbangkan jasa besar sang aku yang telah mengalirkan energi positif pada otak sehingga kita bisa berfikir, berfilsafat atau bernalar. 

Selamat merenung.

Sumber : Prof. Muhammad Isa

----------------------------------

Share :

----------------------------------

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Salmansyuhada